25 May

Pemerintah Dukung 500 Ribu UMKM Siap Ekspor Produk


Pemerintah berupaya cetak setengah juta eksportir baru. Targetnya adalah para pelaku UMKM. Bebagai program dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut yang direncanakan akan tercapai setelah 9 tahun mendatang. Salah satunya melalui program Kolaborasi Akselerasi Pencetakan 500.000 Eksportir Baru di 2030.

Pada acara Konferensi 500K Eksportir Baru yang diselenggarakan Sekolah Ekspor UKM dan Ekonomi Kreatif secara daring ini turut dihadiri oleh beberapa jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju.

Dalam kesempatannya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, neraca perdagangan Indonesia yang surplus sejak tahun 2020 tahun lalu sedikit banyak dipengaruhi oleh pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berorientasi ekspor.

Adapun pada 2020, neraca perdagangan RI mengalami surplus sebesar 21,74 miliar dollar AS, yang merupakan surplus tertinggi sejak tahun 2017. Capaian ini berlanjut di tahun 2021, dengan surplus sebesar 5,52 miliar dollar AS pada kuartal I.

“Berbagai capaian tersebut tak terlepas dari upaya pemerintah untuk meningkatkan ekspor sekaligus mendorong eksportir baru dari kalangan pelaku usaha menengah, kecil, dan mikro,” kata Airlangga, Senin (19/4/2021).

Airlangga menuturkan, peningkatan UMKM ekspor sejalan dengan strategi pemerintah. Strategi pemerintah yang dimaksud, antara lain menjaga pasar dan produk utama di 10 negara tujuan utama sebesar 70 persen dari total ekspor tahun 2020.

Beberapa negara tujuan dengan nilai ekspor yang tinggi diantaranya Singapura, Malaysia, India, Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

“Kami fokus kepada pelaku UMKM berorientasi ekspor, dan peningkatan kapasitas baik usaha kecil mikro maupun industrI kecil mikro, ataupun menengah,” sebut Airlangga.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa ekspor adalah kegiatan yang menggambarkan daya saing dari perekonomian di suatu negara. Ini juga merupakan turunan dari berbagai keahlian, inovasi, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

“Nilai ekspor kita didominasi nonmigas. Ini sangat bagus karena menggambarkan tumbuhnya daya kompetisi produk nonmigas, yaitu sebesar US$17,44 miliar. Ini menunjukkan kondisi perekonomian kita mampu untuk terus meningkatkan produk nonmigas yang menembus pasar dunia,” jelas Sri Mulyani.

Perhatian pemerintah untuk terus memperbaiki iklim investasi, produktivitas, inovasi, dan kualitas SDM sangat jelas merupakan pondasi yang tepat dan penting.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki melihat UMKM banyak memiliki produk potensial untuk diekspor, seperti pertanian, perikanan, furniture, dekorasi rumah, kosmetik, herbal produk, dan busana muslim.

Teten mengungkapkan bahwa para eksportir di Indonesia masih didominasi oleh pelaku usaha berskala besar sebanyak 86?ri total ekspor.

"Kontribusi ekspor UMKM masih relatif rendah, yaitu 14,37%. Masih tertinggal dari negara-negara APEC yang sudah mencapai 35%," katanya.

Kata Teten setidaknya ada beberapa faktor yang membuat UMKM tanah air sulit menembus pasar ekspor.

"Minimnya pengetahuan tentang pasar luar negeri, kualitas produk, kapasitas produksi, biaya sertifikasi yang tidak murah, hingga kendala logistik," kata Teten.

Tinggalkan Komentar

*