07 Jun

Dampak Tersangkutnya Kapal Di Terusan Suez


Terusan Suez menjadi titik potensial untuk konflik geopolitik sejak resmi digunakan pada tahun 1869. Membutuhkan waktu sekitar 10 tahun dengan 1,5 juta pekerja untuk menyelesaikan proyek tersebut. Menurut laman Britannica, saat awal dibuka, kanal tersebut hanya berkedalaman 8 meter dengan lebar dasar 22 meter dan lebar permukaan mencapai 91 meter. Pada setiap 8 hingga 10 km dibuat teluk untuk mempermudah laju kapal agar bisa melewati satu sama lain.

Kanal ini mampu menyingkat waktu pelayaran antara Eropa dan Asia karena memotong waktu menjadi beberapa hari bahkan 2 pekan. Menurut CNN, Terusan Suez merupakan jalur pelayaran yang sangat sibuk, karena per tahunnya sekitar 12% kapal perdagangan dunia melewati kanal ini dengan 3,3 juta ton kargo setiap harinya. Dikutip dari Agence France Press (AFP), tahun 2019 sekitar 19.000 kapal melewati jalur tersebut dan diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2023 dengan sirkulasi dua arah sehingga dapat mengurangi waktu tunggu.

Kapal sepanjang 400 meter dan berbobot 200.000 ton itu kandas pada Selasa pagi (23/3/2021). Kapal buatan Jepang dan berbendera Panama ini melakukan perjalanan dari Cina menuju Belanda. Pada saat kejadian, kapal tersebut sedang disewa oleh perusahaan peti kemas Taiwan dan membawa sekitar 20.000 kontainer.

Menurut laporan awal Suez Canal Authority (SCA), kapal Evergreen itu kandas akibat angin kencang dan badai pasir yang mempengaruhi jarak penglihatan. Namun terbaru, Ketua SCA, Jenderal Rabie mengatakan bahwa cuaca bukan menjadi penyebab utama kapal itu tersangkut.

“Mungkin ada kesalahan teknis atau akibat manusia,” katanya kepada wartawan. “Semua faktor ini akan diperjelas dalam penyelidikan.”

Dampak dari insiden itu ialah ada sekitar 367 kapal menunggu untuk melewati kanal termasuk beberapa kapal yang terpaksa mengubah rute pelayaran melewati selatan Afrika. Seorang analis kapal memperkirakan, kemacetan lalu lintas laut itu telah menahan USD 10 miliar dalam perdagangan setiap hari dan USD 400 juta per jam untunk barang yang tertunda.

Dilansir dari Kontan,  Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Properti dan Kawasan Properti, Sanny Iskandar mengatakan, insiden tersebut bisa berdampak terhadap keterlambatan dan naiknya ongkos angkutan laut ke pasar internasional.

Menurut Sanny, dampak terhadap perdagangan Indonesia memang belum dapat digambarkan secara angka, baik persentase maupun nominal. Namun, dengan waktu tempuh yang lebih lama, maka biaya ekspedisi perjalanan kapal akan membengkak. Tambahan biaya terjadi akibat penambahan bahan bakar dan biaya kru kapal. Termasuk pada aktivitas ekspor kelapa sawit sebagai komoditas andalan Indonesia juga belum terkendala sejauh ini.

Sebagian besar pengangkutan ekspor impor menggunakan kargo lantaran secara biaya lebih murah dan efisien. Namun, perlu dipetakan terlebih dahulu bagaimana jadwal pengangkutan masing-masing produk ekspor atau impor yang melewati Terusan Suez, terutama dari dan menuju Eropa.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nonmigas Indonesia per Februari 2021 ke Uni Eropa sebesar USD 1,13 miliar, sedangkan impor barang nonmigas dari Uni Eropa senilai USD 1,55 miliar.

Akhirnya, setelah hampIr sepekan tersangkut, Senin (29/3/2021) kapal tersebut berhasil dievakuasi. Melalui rekaman evakuasi Ever Given yang disiarkan stasiun televisi local ExtraNews menunjukkan, kapal tersebut ditarik sejumlah kapal tunda sehingga dapat bergerak dengan kecepatan 1,5 knot dan lalu lintas Terusan Suez kini sudah kembali normal.

Tinggalkan Komentar

*