24 Sep

Business Women's Day


Dalam acara Business Women’s Day yang dipandu Ralph Tampubolon melalui siaran MOST Radio 108.5 FM, Selasa (22/9), Amelia Angelica, Direktur KGX berbagi cerita dan pengalamannya selama berkarir di dunia logistik. Amelia menjelaskan bahwa sistem kerja di KGX selama PSBB jilid 2 ini menyesuaikan dengan kondisi. Pada divisi yang bisa WFH, maka diberlakukan WFH, namun pada divisi lapangan yang tidak bisa WFH, maka diberlakukan sistem shifting.

Ketika ditanya mengenai dampak pandemi pada sektor logistik, Amelia mengatakan bahwa di KGX, ada beberapa segmen yang turun. Pada segmen B2B (Business to Business), karena banyak retail yang tutup sementara dan terdampak secara langsung, maka pemasukan otomatis turun, kecuali e-commerce yang justru mengalami kenaikan.

“Kebetulan KGX memang menggabungkan 2 segmen, ada B2B dan ada B2C (Business to Customer). Saat B2B sedang turun, kita dibantu oleh e-commerce. Karena kalau nggak, operational cost kan harus jalan. Kita lihat kebutuhan client apa ya, oh ternyata kebutuhan e-commerce sedang naik karena mereka butuh proses yang cepat, mereka pengennya diterima di hari yang sama. Mereka pengennya kirim sayur-sayuran. Akhirnya kita masuk ke situ. Jadi benar-benar kita melihat peluang. Jadi kemarin banyak peluang yang tidak kita lihat, tapi begitu tahun ini terjadi begini (pandemi), tiap peluang kita ambil” ungkap Amelia.

Sebagai salah satu unit bisnis Kompas Gramedia yang terbilang baru, KGX harus bisa survive dalam menghadapi situasi pandemi seperti ini. Karena bisnis logistik harus tetap berjalan meskipun keadaan sedang sulit seperti sekarang.

Berbagai strategi dan keputusan ia matangkan bersama tim manajemen KGX. Duduk dan diskusi bersama tim untuk melihat kebutuhan pasar dan menyatukan mindset untuk dapat bertahan.

“Akhirnya yang kita bilang, kita kan sudah terbiasa dari awal bahwa business is changing, kita harus ngikutin. Makanya kita langsung lihat nih, kita gak bisa ngelakuin ini, yang bisa kita lakuin adalah ini, 1, 2, 3, didiskusikan. Kita duduk bersama tim sama-sama semua manajemen, kita tanya kira-kira idenya apa, apa yang dibutuhkan pasar, konsepnya seperti apa, kita bisa ngelakuin apa dan berapa lama, itu yang harus kita eksekusi. Itu karena kita mau survive, kecuali ga mau survive ya udah jalanin aja. Dan kita pastikan punya mindset yang sama. Bahwa kita di sini untuk kemajuan perusahaan supaya keluarga kita tetep bisa makan. Itu yang paling penting.” tutur Amelia.

Ketika diminta untuk memilih, melanjutkan sesuatu yang sudah mencapai tahap menengah dan ingin naik level atau mengurus sesuatu dari nol supaya bisa jadi. Amelia menjelaskan bahwa sudah pernah mengalami kedua proses tersebut. Tantangannya lebih besar yang dari awal, dari nol. Karena kita memikirkan strategi dari awalnya, memikirkan tim seperti apa yang harus kita punya, rekrutmen, dan proses segalanya.

Membahas tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di dunia kerja, Amelia menjelaskan bahwa, kesenjangan tersebut sudah cukup jauh saat ini. Sekarang sudah banyak kemajuan, equality sudah jauh lebih baik. Selama pengalamannya bekerja, Amelia menceritakan bahwa dahulu sempat meeting dengan klien, dengan vendor yang isinya laki-laki semua. Awalnya mereka memandang sebelah mata dengan penampilan perempuan yang terlihat feminim. Meskipun bergaya feminim, namun soal pengetahuan logistik, ia tak kalah dengan yang lainnya. Di situ Amelia menjelaskan apa yang ia paham detail pekerjaan mulai dari awal sampai akhir. Akhirnya mereka sedikit mengubah cara pandangnya terhadap perempuan.

“Karena banyak berkecimpung di dunia bisnis yang mayoritas identik dengan pekerjaan laki-laki, akhirnya sedikit banyak terpengaruh pada cara berpikir. Pengambilan keputusasn yang harus dibuat dengan cepat. Kadang client baru minta A kemarin, besok sudah minta jawabannya. Karena kalau banyak bertele-tele di dunia seperti ini akan ketinggalan,” ungkap Amelia.

Alasan dari awal terjun ke dunia kerja sebagai customer service di salah satu perusahaan logitik karena alasan kondisi yang mengharuskannya bekerja. Amelia mengaku pada awalnya belum mengetahui bagaimana tugas customer service. Supaya dapat bertahan, ia harus banyak belajar. Seiring waktu, ia merasa ada hal menarik dalam menghadapi customer yang komplain, marah-marah dan lain sebagainya. Sehingga yang ia rasa kelebihannya adalah think like a man and act like a woman.

Terakhir, Amelia berharap, ke depan banyak wanita yang mau bangkit semakin maju. Jangan sampai tidak maju karena mendengar komentar orang lain. Justru apapun, siapa pun mau pria atau wanita, kita pasti bisa selama ada kemauan, dan selalu berpikir mampu untuk menjadi yang terbaik.

Tinggalkan Komentar

*